B. Kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Kerajaan Islam di Nusantara
B. Kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Kerajaan Islam di Nusantara
1. Kerajaan Samudera Pasai
- Kehidupan Politik
Setelah resmi menjadi kerajaan Islam “kerajan bercorak Islam
pertama di Indonesia”, Samudera Pasai berkembang pesat menjadi pusat
perdagangan dan pusat studi Islam yang ramai. Pedagang dari India, Benggala,
Gujarat, Arab, Cina serta daerah di sekitarnya banyak berdatangan di Samudera Pasai,
selain itu mereka juga meluaskan kekuasaan ke daerah pedalaman meliputi
Tamiang, Balek Bimba, Samerlangga, Beruana, Simpag, Buloh Telang, Benua,
Samudera, Perlak, Hambu Aer, Rama Candhi, Tukas, Pekan dan Pasai.
Pada abad ke-16 bangsa Portugis memasuki perairan Selat
Malaka dan berhasil menguasai Samudera Pasai pada 1521 hingga tahun 1541,
selanjutnya wilayah Samudera Pasai menjadi kekuasaan Kerajaan Aceh yang
berpusat di Bandar Aceh Darussalam, waktu itu yang menjadi raja di Aceh ialah
Sultan Ali Mughayat.
Berikut ini ialah sultan-sultan yang memerintah di Samudera
Pasai yaitu:
Terdapat dua dinasti yang sempat memimpin, yaitu :
1.
Dinasti Meurah Khair
Ø
Maharaja Mahmud Syah
Ø
Maharaja Mansyur Syah
Ø
Teuku Samudra / Nazimuddin Al-kamil
Tiga sultan ini merupakan peletak dasar
pemerintahan Islam.
2.
Dinasti Keurah Silu
·
Sultan Malik al-Saleh (1262-1297)
( Dalam rangka Islamisasi menikah dengan putri
Kerajaan Periak)
·
Sultan Muhammad Malik
az-Zahir ( 1297-1345 )
(Berhubuhan
dengan luar negeri (Diplomasi), mengenal mata uang dirham)
·
Sultan Mahmud az-Zahir ( 1326-1345 )
( Mencapai puncak kejayaan) dan
·
Sultan Malik az-Zahir (1346-1383)
(
Serangan majapahit tahun1345-1359)
·
Sultan Zainal Adibin
Malik az-Zahir (1383-1405)
·
Sultanan Nahrisyah (1405-1412)
·
Abu Zain Malik az-Zahir (1412)
·
Mahmud Malik az-Zahir (1513-1524)
- Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi masyarakat Kerajaan Samudera Pasai
berkaitan dengan perdangan dan pelayaran.
Hal itu disebabkan karena letak Kerajaan Samudera Pasai yang dekat dengan Selat
Malaka yang menjadi jalur pelayaran dunia saat itu. Samudera Pasai memanfaatkan
Selat Malaka yang menghubungkan Samudera Pasai – Arab – India – Cina. Samudera
Pasai juga menyiapkan bandar-bandar dagang yang digunakan untuk menambah
perbekalan untuk berlayar selanjutnya, mengurus masalag perkapalan,
mengumpulkan barang dagangan yang akan di kirim ke luar negeri dan menyimpan
barang dagangan sebelum di antar ke beberapa daerah di Indonesia.
- Kehidupan Sosial & Budaya
Para pedagang asing yang singgah di Malaka untuk sementara
menetap beberapa lama untuk mengurusi perdagangan mereka. Dengan demikian para
pedagang dari berbagai bangsa itu bergaul selama beberapa lama dengan penduduk
setempat. Kesempatan itu digunakan oleh pedagang Islam dari Gujarat, Persia dan
Arab untuk menyebarkan agama Islam, dengan demikian kehidupan sosial masyarakat
dapat lebih maju, bidang perdagangan dan pelayaran juga bertambah maju.
Kerajaan Samudera Pasai sangat dipengaruhi oleh Islam. Hal
itu terbukti terjadinya perubahan aliran Syiah menjadi aliran Syfi’i di
Samudera Pasai ternyata mengikuti perubahan di Mesir. Pada saat itu di Mesir
sedang terjadi pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimah yang beraliran Syiah
kepada Dinasti Mameluk yang beraliran Syafi’i. Aliran Syafi’i dalam
perkembangannya di Pasai menyesuaikan dengan adat Istiadat setempat sehingga
kehidupan sosial masyarakatnya merupakan campuran Islam dengan adat Istiadat
setempat.
2.
Kerajaan Demak
- · Kehidupan Politik
Raja pertama Kerajaan Demak adalah Raden Fatah yang bergelar
Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Raden Fatah memerintah Demak dari tahun 1500-1518. Pada
masa pemerintahan Raden Fatah, wilayah kekuasaan Kerajaan Demak cukup luas ,
meliputi Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi, dan beberapa daerah di Kalimantan . kemajuan yang
dialami demak ini dipengaruhi oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Karena
malaka sudah dikuasai oleh Portugis maka para pedagang yang tidak simpatik
dengan kehadiran Portugis di Malaka beralih haluan menuju pelabuhan –pelabuhan
Demak seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik. Pelabuhan-pelabuhan
tersebut kemudian berkembang menjadi pelabuhan transit.
- · Kehidupan Ekonomi
Menurut cerita rakyat jawa timur, raden fatah merupakan
keturunan raja terakhir dari kerajaan majapahit yaitu raja brawijaya. Di bawah
pemerintahan, kerajaan demak berkembang dengan pesat karena memiliki daerah
pertanian yang luas sebagai penghasil bahan makanan terutama beras.
Letak Kerajaan Demak
strategis dan berkembang yaitu di jalur perdagangan antara Malaka dan Maluku. Letak Kerajaan Demak
menjadikannya sebagai Kerajaan Maritim. Kerajaan Demak disebut juga sebagai
sebuah kerajaan yang agraris-Maritim. Hal ini mendorong aktivitas perdagangan
cepat berkembang. Barang yang diekspor antara lain beras, lilin dan madu.
Barang –barang itu diekspor ke Malaka, Maluku, dan Samudra Pasai.
- ·
Kehidupan
Sosial & Budaya
Selain tumbuh menjadi
pusat Kerajaan Demak juga tumbuh menjadi pusat penyebaran agama Islam . Para
wali yang merupakan tokoh penting pada perkembangan Kerajaan Demak ini,
memanfaatkan posisinya untuk lebih menyebarkan islam kepada penduduk Jawa. Para
wali juga berusaha menyebarkan Islam di luar Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam
di Maluku dilakukan oleh Sunan Giri sedangkan di daerah Kalimantan timur
dilakukan oleh seorang penghulu dari kerajaan demak yang bernama Tunggang
Parangan . Setelah kerajaan Demak lemah maka munculah Kerajaan Panjang.
3. Kerajaan Aceh
Darussalam
- ·
Kehidupan Politik
Kehidupan
politik dan pemerintahan Kerajaan Aceh dipimpin oleh seorang Sultan. Sultan
atau raja awal mulanya berkedudukan di Gampong Pande, namun kemudian dipindahkan
ke dalam Darud Dunia atau di sekitar Pendopo Gubernur Aceh (sekarang). Ibu kota
kesultanan Aceh berada di Bandar Aceh Darussalam, namun pada tahun 1873 ibukota
dipindahkan ke Keumala di pedalaman Pidie, dengan raja pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah, beliau merupakan pendiri kerajaan Aceh. Ia memerintah dari
tahun 1514 hingga 1528 masehi. Pada masa kekuasaannya, kesultanan Aceh berusaha
untuk meluaskan daerah kekuasaannya. Selain itu, pada masa kepemimpinan Sultan
Ali Mugyat Syah kerajaan Aceh melakukan serangan terhadap kedudukan Portugis di
Malaka.
Tahun 1529 Kesultanan Aceh mengadakan
persiapan untuk meyerang Portugis di Malaka, tetapi batal karena Sultan Ali
Mugyat Syah wafat pada 1530.
Pada
tahun 1563 Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar mengirim utasannya ke
Konsantinopel untuk meminta bantuan dalam usaha melawan Portugis.
Dua
tahun kemudian ia menerima bantuan dari Turki dan menaklukan banyak kerajaan,
seperti Batak, Aru, dan Barus. Demi menjaga keutuhan Kesultanan Aceh, ia menempatkan
suami saudara perempuannya di Barus dengan gelar Sultan Barus , dua orang putra
sultan diangkat menjadi Sultan Aru dan Sultan Pariaman dengan gelar resminya
Sultan Ghari dan Sultan Mughal , dan didaerah- daerah pengaruh Kesultanan Aceh
ditempatkan wakil-wakil dari Aceh.
Kerajaan Aceh mengalami masa kejayaannya pada masa
pemerintahan Sultan Iskandar Muda sampai mengundang perhatian para ahli
sejarah. Di bidang politik ia telah menundukkan daerah-daerah di sepanjang
pesisir timur dan barat. Demikian pula Johor di
Semenanjung Malaya telah diserang, dan kemudian mengaku kekuasaan
Kesultanan Aceh Darussalam. Ia juga menjalin hubungan dengan para pemimpin
Islam di Arab sehingga dikenal sebagai “Serambi Mekah”.
Keruntuhan kerajaan ini disebabkan oleh perluasan kekuasaan politik VOC sampai Belanda pada dekade abad ke-20 hingga tahun 1903 Sulan terakhir,yaitu Sultan Muh Daud menyerah pada Belanda.
- ·
Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi di kerajaan Aceh bertumpu di bidang
pelayaran, perdagangan, dan mengembangkan kekuatan angkatan perang. Perekonomian Aceh tumbuh pesat, sebab
letaknya strategis di Selat Malaka. Selain itu, semakin meluasnya pengaruh
kerajaan Aceh dan hubungan-hubungan dengan pihak asing dengan kerajaan islam di
Timur Tengah seperti Turki, Abessinia(Ethiopia), dan Mesir juga menjadi faktor perkembangan ekonomi yang
semakin maju.
Tidak hanya itu saja, perekonomian di Ibukota kerajaan juga tumbuh pesat,
dibuktikan dengan sudah adanya pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi. Di
bidang pertanian, daerah Sedang Pidie adalah lumbung bagi komoditas padi. Namun
komoditas utama atau bisa dikatakan unggulan di kesultanan Aceh yang diekspor
ke luar adalah lada.
Dengan berkembang pesatnya perekonomian di kesultanan Aceh,
menjadikannya sebagai kerajaan Islam besar yang diperkuat oleh armada
bersenjata yang besar dan kuat, terutama armada lautnya.
- ·
Kehidupan Sosial &
Budaya
Kehidupan sosial budaya Kerajaan Aceh Darussalam dapat
dilihat landasan hukum yang berlaku yang didasari dari ajaran Islam. Hukum adat
ini disebut hukum adat Makuta Alam. Berdasarkan hukum ini, pengangkatan seorang
sultan diatur dengan sedemikian rupa dengan melibatkan ulama dan perdana
menteri.
Sisa-sisa arsitektur bangunan peninggalan kesultanan Aceh
keberadaannya tidak terlalu banyak, disebabkan karena sudah terbakar pada masa
perang Aceh. Beberapa bangunan yang masih tersisa contohnya seperti Istana
Dalam Darud Donya yang sekarang menjadi Pendopo Gubernur Aceh.
Selain istana, beberapa peninggalan yang masih dapat kita
lihat sampai sekarang seperti Masjid Tua Indrapuri, Benteng Indra Patra,
Gunongan, Pinto Khop, dan kompleks pemakaman keluarga kesultanan Aceh.
4. Kerajaan Islam Banjar
- ·
Kehidupan Politik
Kerajaan Nagara Dipa masa pemerintahan Putri Jungjung Buih dan patihnya
Lembu Amangkurat, pernah mengadakan hubungan dengan Kerajaan Majapatih.
Hubungan ini dibuktikan dalam cerita Hikayat Banjar dan Kronik
Banjarmasin. Pada waktu menghadapi
peperangan dengan Daha, Raden Samudera (pemimpin pertama) meminta
bantuan kepada Kerajaan Demak sehingga mendapat kemenangan.
Sejak pemerintahan Sultan Suryanullah, kerajaan Banjar memperluas
kekuasaannya sampai Sambas, Batanglawai
Sukadana, Kotawaringin, Sampit, Madawi, dan Sambang.Sebagai tanda daerah takluk
biasanya pada waktu-waktu tertentu mengirim upeti kepada Sultan Suryanullah
sebagai penguasa Kerajaan Banjar.
Setelah Sultan Suryanullah wafat, ia digantikan oleh putra tertuanya
dengan gelar Sultan Rahmatullah yang bergelak” Sultan Hidayatullah”. Ketika
menjabat menjadi raja, ia masih mengirimkan upeti ke Demak, yang waktu itu
sudah menjadi Kerajaan Panjang.
Kemudian digantikan oleh Sultan Marhum Panambahan atau dikenal dengan
gelar Sultan Mustain Billah yang pada masanya berupaya memindahkan ibu kota
kerajaan ke Amuntai. Ketika memerintah pada awal ke-17 Sultan Mustain Billah
ditakuti oleh kerajaan-kerajaan sekitarnya dan ia dapat menghimpun lebih kurang
50.000 prajurit. Saking kuatnya Kerajaan Banjar sehingga ia dapat membendung
pengaruh politik dari Tuban, Arosbaya, dan Mataram, di samping
menguasaindaerah-daerah kerajaan di Kalimantan Timur, Tenggara, dan Barat.
Pada 1 November 1857, penggantian sultan-sultan mulai dicampuri oleh
kepentingan politik Belanda sehingga terjadi pertentangan-pertentangan antara
keluarga raja, terlebihnya setelah dihapusnya Kerajaan Banjar oleh Belanda.
Perlawan-perlawanan terhadap Belanda itu terus-menerus dilakukan terutama
antara tahun 1859-1863, antara lain oleh Pangeran Antasari, Pangeran Demang
Leman, Haji Nasrun dan lainnya. Perlawanan terhadapt belanda ini terus
dilakukan sampai tahun-tahun berikutnya.
- ·
Kehidupan Ekonomi
Besarnya perdagangan
lada menyebabkan melimpahnya kekayaan bagi golongan politikus dan pedagang,
karena mereka memiliki kekuasaan penuh yang tidak dimiliki oleh rakyat awam.
Dalam kerajaan Banjar,
pajak merupakan penghasilan terbesar dan sangat penting untuk menjalankan roda
pemerintahan.
- ·
Kehidupan Sosial Budaya
Dalam kehidupan masyarakat Banjar terdapat susunan
dan peranan sosial yang berbentuk
limas
(lapisan). Lapisan paling atas adalah golongan penguasa yang merupakan
golongan
minoritas. Mereka adalah kaum bangsawan atau “bubuhan raja-raja”. Penghargaan
masyarakat terhadap golongan bangsawan ini sesuai dengan derajat kebangasawanannya.
Mereka, secara turun-temurun, menjadi golongan terhormat dan berdarah
bangsawan, serta mempunyai gelar-gelar seperti sultan, pangeran, ratu, gusti, andin, antung, dan nanang.
Golongan ini mempunyai hak memungut cukai dari hasil bumi, hasil pertanian,
perikanan dan lain-lain.
Golongan kedua adalah pejabat kerajaan, ulama-ulama, mufti, dan penghulu.
Golongan ini langsung berhubungan dengan penduduk. Segala macam barang yang
mereka beli dari masyarakat dan di bayar dengan uang. Mufti sebagai pejabat
formal mengurus segala perkara hukum pada tingkat tinggi. Sementara ulama-ulama
menyampaikan ajaran agama islam.
Golongan ketiga merupakan golongan terbesar, yaitu rakyat biasa. Mereka
itu adalah golongan yang hidup dari bertani dan perdagangan kecil-kecilan,
nelayan, kerajinan, industri, dan pertukangan.
Golongan bawah adalah golongan pandeling.
Golongan pandeling adalah mereka yang kehilangan setengah kemerdekaan akibat hutang-hutang yang tak dapat mereka bayar.
Biasanya, merekalah yang menjalankan perdagangan dari golongan bangsawan atau
pedagang-pedangan kaya. Golongan ini berakhir pada abad ke-19, seiring dengan
dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh Belanda.
Berkaitan dengan kehidupan budaya, telah berkembang beberapa corak seni
dan sastra. Saat
itu, Banjar telah memiliki gamelan yang dipukul dengan lemah lembut, seni sastra
berkembang dengan menggunakan huruf Arab Melayu (Jawi), dan kemungkinan, juga telah
berkembang suatu seni, hasil perpaduan antara tonil
Melayu dan cerita Seribu Satu Malam.
Seni ukir berkembang karena adanya kebiasaan para bangsawan dan orang kaya untukmembuat
rumah secara mewah, yang dipenuhi dengan ukiran indah. Corak seni lain yang
jugatelah berkembang dan amat kuat dipengaruhi kebudayaan Islam adalah mahidin
dan balamut.
Ini semua menunjukkan bahwa, di Kerajaan Banjar telah berkembang suatu seni budaya
dengan coraknya yang khas.
5. Kerajaan Mataran Islam
- · Kehidupan Politik
Dalam bidang politik pemerintahan, Sultan Agung berhasil memperluas
wilayah Mataram ke berbagai daerah yaitu, Surabaya (1615), Lasem. Pasuruhan
(1617), dan Tuban (1620). Di samping berusaha menguasai dan mempersatukan
berbagai daerah di Jawa, Sultan Agung juga ingin mengusir VOC dari Kepulauan
Indonesia. Kemudian diadakan dua kali serangan tentara Mataram ke Batavia pada
tahun 1628 dan 1629.
Mataram mengalami kemunduran apalagi adanya pengaruh VOC yang semakin
kuat. Dalam perkembangannya Kerajaan Mataram akhirnya dibagi dua berdasarkan
Perjanjian Giyanti (1755). Sebelah barat menjadi Kesultanan Yogyakarta dan
sebelah kiri menadi Kasunanan Surakarta
- ·
Kehidupan Ekonomi
Mataram berkembang menjadi kerajaan
agraris. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangakan daerah-daerah
persawahan yang luas. Seperti yang dilaporkan oleh Dr. de Han, Jan Vos dan
Pieter Franssen bahwa Jawa bagian tengah adalah daerah pertanian yang subur
dengan hasil utamanya adalah beras. Pada abad ke-17, Jawa benar-benar menjadi
lambung padi. Hasil-hasil yang lain adalah kayu,gula, kelapa, kapas, dan hasil
palawija
- ·
Kehidupan Sosial Budaya
Kehidupan sosial di Mataram dikenal
beberapa kelompok dalam masyarakat. Ada golongan raja dan keturunannya, para
bangsawan dan rakyat sebagai kawula kerajaan. Kehidupan masyarakat bersifat feodal
karena raja adalah pemilik tanah beserta seluruh isinya. Sultan dikenal sebagai
panatagama, yaitu pengatur kehidupan
keagamaan. Oleh karena itu, Sultan memiliki kedudukan yang sangat tinggi.
Rakyat sangat hormat dan patuh, serta hidup mengabdi pada sultan.
Bidang kebudayaan juga maju pesat. Seni
bangunan, ukir, lukis dan patung mengalami perkembangan. Kreasi-kreasi para seniman,
misalnya terlihat pada pembuatan gapura-gapura, serta ukir-ukiran di istanadan
tempat ibadah. Seni tari yang terkenal adalah Tari Bedoyo Ketawang. Dalam
prakteknya, sultan Agung memadukan unsur-unsur budaya Islam dengan budata
Hindu-Jawa. Sebagai contoh, di Mataram diselenggarakan perayaan sekaten untuk
memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan membunyikan gamelan Kyai
Nagawilaga dan Kyai Guntur Madu. Kemudian juga diadakan upacara grebeg. Grebeg
diadakan tiga kali dalam satu tahun yaitu setiap tanggal 10 Dzulliijah, 1
Swyawal, dan tanggal 12 Rabiulawan. Bentuk dan kegiatan upacara grebeg adalah
mengarak gunungan dari keratin ke depan masjid agung. Gunungan biasanya dibuat
dari berbagai makanan, kue,dan hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung.
Upacara grebeg merupakan sedekah sebagai rasa syukur dari raja kepada Tuhan
Yang Maha Esa dan juga sebagai pembuktian kesetiaan para bupati dan punggawa
kerajaan kepada rajanya.
6. Kerajaan Panjang
· Kehidupan Politik
Kerajaan Pajang ini bisa dikatakan sebagai kerajaan bekas dari Demak. Hal ini karena sejarah berdirinya Kerajaan Pajang tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Demak. Pendiri Kerajaan Pajang adalah Joko Tingkir yang kala itu berhasil menumpas Aryo Penangsang. Aryo Penangsang sendiri adalah raja di Demak yang tidak diinginkan oleh peihak keluarga besar Demak. Dari sini kemudian keluarga meminta bantuan Joko Tingkir untuk menyingkirkan Aryo Penangsang. Setelah berjalannya waktu, Kerajaan Demak runtuh maka Joko Tingkir kemudian menggeser pusat pemerintahan di Demak ke Pajang yang sekaligus menjadi penanda berdirinya Kerajaan Islam Pajang.
· Kehidupan Ekonomi
Secara ekonomi, perekonomian Kerajaan Pajang sangatlah baik, meskipun tergolong Kerajaan baru. Kesejahteraan rakyatnya cukup terjamin dengan berbagai hasil bumi yang dihasilkan. Ketika Kerajaan Demak masih berkuasa, bahkan Kerajaan Pajang ini sudah berhasil mengekspor beras ke beberapa daerah melalui perniagaan dengan memanfaatkan Bengawan Solo sebagai jalur transportasi. Pada umumnya, masyarakat Pajang mengandalkan hasil kebun dan pertanian untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan Pajang berhasil menjadi lumbung beras pada sekitar abad ke 16 dan ke 17. Hal ini karena irigasi di daerah Pajang sangat bagus dengan adanya Bengawan Solo sehingga irigasi lancar yang kemudian membuat hasil pertanian melimpah.
Kelemahan masyarakat Pajang pada saat itu adalah ketidakmampuan dalam bidang perniagaan. Sehingga meski memiliki hasil agraris yang sangat melimpah, kedigdayaan ekonomi Kerajaan Pajang ini tidak berlangsung lama. Terlebih lagi perniagaan dengan basis laut atau maritim yang sedang ngetrend pada saat itu, semakin membuat Kerajaan Pajang tertinggal dengan kerajaan lain di bidang ekonomi perniagaan. Karena masyarakat pajang kurang ahli dalam masalah kelautan, padahal pada saat itu semua perdagangan hampir dilakukan di lautan.
· Kehidupan Sosial Budaya
Meski kerajaan Pajang merupakan salah satu Kerajaan Islam di Jawa, namun pengaruh tradisi Hindu masih kentara. Sehingga beberapa kebudayaan pun masih ada yang menggunakan tradisi-tradisi Hindu. Masyarakat di Pajang juga masih banyak yang menjalankan beberapa tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Pada masa kejayaan Kerajaan Pajang, terjadi akulturasi budaya antara Hindu dan Islam yang kuat. Bahkan, kemunculan Kerajaan Pajang ini juga banyak yang menafsirkan kembalinya kekuasaan Islam kejawen dari Islam ortodok.
Komentar
Posting Komentar