Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya Kerajaan Islam di Nusantara

 

B. Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya Kerajaan Islam di Nusantara

1. Kerajaan Samudera Pasai

  • Kehidupan Politik

Setelah resmi menjadi kerajaan Islam “kerajan bercorak Islam pertama di Indonesia”, Samudera Pasai berkembang pesat menjadi pusat perdagangan dan pusat studi Islam yang ramai. Pedagang dari India, Benggala, Gujarat, Arab, Cina serta daerah di sekitarnya banyak berdatangan di Samudera Pasai, selain itu mereka juga meluaskan kekuasaan ke daerah pedalaman meliputi Tamiang, Balek Bimba, Samerlangga, Beruana, Simpag, Buloh Telang, Benua, Samudera, Perlak, Hambu Aer, Rama Candhi, Tukas, Pekan dan Pasai.

Pada abad ke-16 bangsa Portugis memasuki perairan Selat Malaka dan berhasil menguasai Samudera Pasai pada 1521 hingga tahun 1541, selanjutnya wilayah Samudera Pasai menjadi kekuasaan Kerajaan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam, waktu itu yang menjadi raja di Aceh ialah Sultan Ali Mughayat.

Berikut ini ialah sultan-sultan yang memerintah di Samudera Pasai yaitu:

Terdapat dua dinasti yang sempat memimpin, yaitu :

1.      Dinasti Meurah Khair

Ø  Maharaja Mahmud Syah

Ø  Maharaja Mansyur Syah

Ø  Teuku Samudra / Nazimuddin Al-kamil

Tiga sultan ini merupakan peletak dasar pemerintahan Islam.

 

2.      Dinasti Keurah Silu

·         Sultan Malik al-Saleh (1262-1297)

 ( Dalam rangka Islamisasi menikah dengan putri Kerajaan Periak)

·         Sultan Muhammad Malik  az-Zahir ( 1297-1345 )

(Berhubuhan dengan luar negeri (Diplomasi), mengenal mata uang dirham)

·         Sultan Mahmud az-Zahir ( 1326-1345 )

 ( Mencapai puncak kejayaan) dan 

·         Sultan Malik az-Zahir (1346-1383)

( Serangan majapahit tahun1345-1359)

·          Sultan Zainal Adibin Malik az-Zahir (1383-1405)

·         Sultanan Nahrisyah (1405-1412)

·         Abu Zain Malik az-Zahir (1412)

·         Mahmud Malik az-Zahir (1513-1524)

  • Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi masyarakat Kerajaan Samudera Pasai berkaitan dengan perdangan dan  pelayaran. Hal itu disebabkan karena letak Kerajaan Samudera Pasai yang dekat dengan Selat Malaka yang menjadi jalur pelayaran dunia saat itu. Samudera Pasai memanfaatkan Selat Malaka yang menghubungkan Samudera Pasai – Arab – India – Cina. Samudera Pasai juga menyiapkan bandar-bandar dagang yang digunakan untuk menambah perbekalan untuk berlayar selanjutnya, mengurus masalag perkapalan, mengumpulkan barang dagangan yang akan di kirim ke luar negeri dan menyimpan barang dagangan sebelum di antar ke beberapa daerah di Indonesia.

  • Kehidupan Sosial & Budaya

Para pedagang asing yang singgah di Malaka untuk sementara menetap beberapa lama untuk mengurusi perdagangan mereka. Dengan demikian para pedagang dari berbagai bangsa itu bergaul selama beberapa lama dengan penduduk setempat. Kesempatan itu digunakan oleh pedagang Islam dari Gujarat, Persia dan Arab untuk menyebarkan agama Islam, dengan demikian kehidupan sosial masyarakat dapat lebih maju, bidang perdagangan dan pelayaran juga bertambah maju.

Kerajaan Samudera Pasai sangat dipengaruhi oleh Islam. Hal itu terbukti terjadinya perubahan aliran Syiah menjadi aliran Syfi’i di Samudera Pasai ternyata mengikuti perubahan di Mesir. Pada saat itu di Mesir sedang terjadi pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimah yang beraliran Syiah kepada Dinasti Mameluk yang beraliran Syafi’i. Aliran Syafi’i dalam perkembangannya di Pasai menyesuaikan dengan adat Istiadat setempat sehingga kehidupan sosial masyarakatnya merupakan campuran Islam dengan adat Istiadat setempat.

2. Kerajaan Demak

Kehidupan Politik

Raja pertama Kerajaan Demak adalah Raden Fatah yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Raden Fatah memerintah Demak dari tahun 1500-1518. Pada masa pemerintahan Raden Fatah, wilayah kekuasaan Kerajaan Demak cukup luas , meliputi Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi, dan  beberapa daerah di Kalimantan . kemajuan yang dialami demak ini dipengaruhi oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Karena malaka sudah dikuasai oleh Portugis maka para pedagang yang tidak simpatik dengan kehadiran Portugis di Malaka beralih haluan menuju pelabuhan –pelabuhan Demak seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik. Pelabuhan-pelabuhan tersebut kemudian berkembang menjadi pelabuhan transit.

 Kehidupan Ekonomi

Menurut cerita rakyat jawa timur, raden fatah merupakan keturunan raja terakhir dari kerajaan majapahit yaitu raja brawijaya. Di bawah pemerintahan, kerajaan demak berkembang dengan pesat karena memiliki daerah pertanian yang luas sebagai penghasil bahan makanan  terutama beras.

Letak Kerajaan Demak strategis dan berkembang yaitu di jalur perdagangan antara  Malaka dan Maluku. Letak Kerajaan Demak menjadikannya sebagai Kerajaan Maritim. Kerajaan Demak disebut juga sebagai sebuah kerajaan yang agraris-Maritim. Hal ini mendorong aktivitas perdagangan cepat berkembang. Barang yang diekspor antara lain beras, lilin dan madu. Barang –barang itu diekspor ke Malaka, Maluku, dan Samudra Pasai.

·       Kehidupan Sosial & Budaya

Selain tumbuh menjadi pusat Kerajaan Demak juga tumbuh menjadi pusat penyebaran agama Islam . Para wali yang merupakan tokoh penting pada perkembangan Kerajaan Demak ini, memanfaatkan posisinya untuk lebih menyebarkan islam kepada penduduk Jawa. Para wali juga berusaha menyebarkan Islam di luar Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam di Maluku dilakukan oleh Sunan Giri sedangkan di daerah Kalimantan timur dilakukan oleh seorang penghulu dari kerajaan demak yang bernama Tunggang Parangan . Setelah kerajaan Demak lemah maka munculah Kerajaan Panjang.

3. Kerajaan Aceh Darussalam

·       Kehidupan Politik

Kehidupan politik dan pemerintahan Kerajaan Aceh dipimpin oleh seorang Sultan. Sultan atau raja awal mulanya berkedudukan di Gampong Pande, namun kemudian dipindahkan ke dalam Darud Dunia atau di sekitar Pendopo Gubernur Aceh (sekarang). Ibu kota kesultanan Aceh berada di Bandar Aceh Darussalam, namun pada tahun 1873 ibukota dipindahkan ke Keumala di pedalaman Pidie, dengan raja pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah, beliau merupakan pendiri kerajaan Aceh. Ia memerintah dari tahun 1514 hingga 1528 masehi. Pada masa kekuasaannya, kesultanan Aceh berusaha untuk meluaskan daerah kekuasaannya. Selain itu, pada masa kepemimpinan Sultan Ali Mugyat Syah kerajaan Aceh melakukan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka.

 Tahun 1529 Kesultanan Aceh mengadakan persiapan untuk meyerang Portugis di Malaka, tetapi batal karena Sultan Ali Mugyat Syah wafat pada 1530.

Pada tahun 1563 Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar mengirim utasannya ke Konsantinopel untuk meminta bantuan dalam usaha melawan Portugis.

Dua tahun kemudian ia menerima bantuan dari Turki dan menaklukan banyak kerajaan, seperti Batak, Aru, dan Barus. Demi menjaga keutuhan Kesultanan Aceh, ia menempatkan suami saudara perempuannya di Barus dengan gelar Sultan Barus , dua orang putra sultan diangkat menjadi Sultan Aru dan Sultan Pariaman dengan gelar resminya Sultan Ghari dan Sultan Mughal , dan didaerah- daerah pengaruh Kesultanan Aceh ditempatkan wakil-wakil dari Aceh.

Kerajaan Aceh mengalami masa kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sampai mengundang perhatian para ahli sejarah. Di bidang politik ia telah menundukkan daerah-daerah di sepanjang pesisir timur dan barat. Demikian pula Johor di  Semenanjung Malaya telah diserang, dan kemudian mengaku kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam. Ia juga menjalin hubungan dengan para pemimpin Islam di Arab sehingga dikenal sebagai “Serambi Mekah”.

 

Keruntuhan kerajaan ini disebabkan oleh perluasan kekuasaan politik VOC sampai Belanda pada dekade abad ke-20 hingga tahun 1903 Sulan terakhir,yaitu Sultan Muh Daud menyerah pada Belanda.

 

·       Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi di kerajaan Aceh bertumpu di bidang pelayaran, perdagangan, dan mengembangkan kekuatan angkatan perang.  Perekonomian Aceh tumbuh pesat, sebab letaknya strategis di Selat Malaka. Selain itu, semakin meluasnya pengaruh kerajaan Aceh dan hubungan-hubungan dengan pihak asing dengan kerajaan islam di Timur Tengah seperti Turki, Abessinia(Ethiopia), dan Mesir  juga menjadi faktor perkembangan ekonomi yang semakin maju. 

Tidak hanya itu saja, perekonomian di Ibukota kerajaan juga tumbuh pesat, dibuktikan dengan sudah adanya pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi. Di bidang pertanian, daerah Sedang Pidie adalah lumbung bagi komoditas padi. Namun komoditas utama atau bisa dikatakan unggulan di kesultanan Aceh yang diekspor ke luar adalah lada.

Dengan berkembang pesatnya perekonomian di kesultanan Aceh, menjadikannya sebagai kerajaan Islam besar yang diperkuat oleh armada bersenjata yang besar dan kuat, terutama armada lautnya.

·       Kehidupan Sosial & Budaya

Kehidupan sosial budaya Kerajaan Aceh Darussalam dapat dilihat landasan hukum yang berlaku yang didasari dari ajaran Islam. Hukum adat ini disebut hukum adat Makuta Alam. Berdasarkan hukum ini, pengangkatan seorang sultan diatur dengan sedemikian rupa dengan melibatkan ulama dan perdana menteri.

 

Sisa-sisa arsitektur bangunan peninggalan kesultanan Aceh keberadaannya tidak terlalu banyak, disebabkan karena sudah terbakar pada masa perang Aceh. Beberapa bangunan yang masih tersisa contohnya seperti Istana Dalam Darud Donya yang sekarang menjadi Pendopo Gubernur Aceh.

Selain istana, beberapa peninggalan yang masih dapat kita lihat sampai sekarang seperti Masjid Tua Indrapuri, Benteng Indra Patra, Gunongan, Pinto Khop, dan kompleks pemakaman keluarga kesultanan Aceh

4. Kerajaan Islam Banjar

·       Kehidupan Politik

Kerajaan Nagara Dipa masa pemerintahan Putri Jungjung Buih dan patihnya Lembu Amangkurat, pernah mengadakan hubungan dengan Kerajaan Majapatih. Hubungan ini dibuktikan dalam cerita Hikayat Banjar dan Kronik Banjarmasin. Pada waktu menghadapi  peperangan dengan Daha, Raden Samudera (pemimpin pertama) meminta bantuan kepada Kerajaan Demak sehingga mendapat kemenangan.

Sejak pemerintahan Sultan Suryanullah, kerajaan Banjar memperluas kekuasaannya sampai  Sambas, Batanglawai Sukadana, Kotawaringin, Sampit, Madawi, dan Sambang.Sebagai tanda daerah takluk biasanya pada waktu-waktu tertentu mengirim upeti kepada Sultan Suryanullah sebagai penguasa Kerajaan Banjar.

Setelah Sultan Suryanullah wafat, ia digantikan oleh putra tertuanya dengan gelar Sultan Rahmatullah yang bergelak” Sultan Hidayatullah”. Ketika menjabat menjadi raja, ia masih mengirimkan upeti ke Demak, yang waktu itu sudah menjadi Kerajaan Panjang.

Kemudian digantikan oleh Sultan Marhum Panambahan atau dikenal dengan gelar Sultan Mustain Billah yang pada masanya berupaya memindahkan ibu kota kerajaan ke Amuntai. Ketika memerintah pada awal ke-17 Sultan Mustain Billah ditakuti oleh kerajaan-kerajaan sekitarnya dan ia dapat menghimpun lebih kurang 50.000 prajurit. Saking kuatnya Kerajaan Banjar sehingga ia dapat membendung pengaruh politik dari Tuban, Arosbaya, dan Mataram, di samping menguasaindaerah-daerah kerajaan di Kalimantan Timur, Tenggara, dan Barat.

Pada 1 November 1857, penggantian sultan-sultan mulai dicampuri oleh kepentingan politik Belanda sehingga terjadi pertentangan-pertentangan antara keluarga raja, terlebihnya setelah dihapusnya Kerajaan Banjar oleh Belanda. Perlawan-perlawanan terhadap Belanda itu terus-menerus dilakukan terutama antara tahun 1859-1863, antara lain oleh Pangeran Antasari, Pangeran Demang Leman, Haji Nasrun dan lainnya. Perlawanan terhadapt belanda ini terus dilakukan sampai tahun-tahun berikutnya.

·       Kehidupan Ekonomi

Besarnya perdagangan lada menyebabkan melimpahnya kekayaan bagi golongan politikus dan pedagang, karena mereka memiliki kekuasaan penuh yang tidak dimiliki oleh rakyat awam. Dalam kerajaan Banjar, pajak merupakan penghasilan terbesar dan sangat penting untuk menjalankan roda pemerintahan.

·       Kehidupan Sosial Budaya

Dalam  kehidupan  masyarakat  Banjar  terdapat  susunan dan  peranan  sosial  yang  berbentuk limas (lapisan).  Lapisan  paling  atas  adalah  golongan  penguasa  yang  merupakan golongan minoritas.  Mereka  adalah  kaum  bangsawan  atau  “bubuhan  raja-raja”.  Penghargaan masyarakat  terhadap  golongan  bangsawan  ini  sesuai  dengan  derajat  kebangasawanannya. Mereka, secara turun-temurun, menjadi golongan terhormat dan berdarah bangsawan, serta mempunyai  gelar-gelar  seperti  sultan,  pangeran,  ratu,  gusti,  andin,  antung,  dan  nanang. Golongan ini mempunyai hak memungut cukai dari hasil bumi, hasil pertanian, perikanan dan lain-lain.

Golongan kedua adalah pejabat kerajaan, ulama-ulama, mufti, dan penghulu. Golongan ini langsung berhubungan dengan penduduk. Segala macam barang yang mereka beli dari masyarakat dan di bayar dengan uang. Mufti sebagai pejabat formal mengurus segala perkara hukum pada tingkat tinggi. Sementara ulama-ulama menyampaikan ajaran agama islam.

Golongan ketiga merupakan golongan terbesar, yaitu rakyat biasa. Mereka itu adalah golongan yang hidup dari bertani dan perdagangan kecil-kecilan, nelayan, kerajinan, industri, dan pertukangan.

Golongan  bawah  adalah  golongan pandeling. Golongan pandeling adalah  mereka  yang kehilangan  setengah  kemerdekaan  akibat  hutang-hutang  yang  tak  dapat  mereka  bayar. Biasanya,  merekalah  yang  menjalankan  perdagangan  dari  golongan  bangsawan  atau pedagang-pedangan  kaya.  Golongan  ini  berakhir  pada  abad  ke-19, seiring  dengan dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh Belanda.

Berkaitan dengan kehidupan budaya, telah berkembang beberapa corak seni dan sastra. Saat itu,  Banjar  telah  memiliki  gamelan  yang  dipukul  dengan  lemah  lembut,  seni  sastra berkembang  dengan  menggunakan  huruf  Arab  Melayu  (Jawi),  dan  kemungkinan,  juga  telah berkembang  suatu  seni,  hasil  perpaduan  antara  tonil Melayu  dan  cerita  Seribu  Satu  Malam. Seni  ukir  berkembang  karena  adanya  kebiasaan  para  bangsawan  dan  orang  kaya  untukmembuat rumah secara mewah, yang dipenuhi dengan ukiran indah. Corak seni lain yang jugatelah berkembang dan amat kuat dipengaruhi kebudayaan Islam adalah mahidin dan balamut. Ini  semua  menunjukkan  bahwa,  di  Kerajaan  Banjar  telah  berkembang  suatu  seni  budaya dengan coraknya yang khas.

 

5. Kerajaan Mataran Islam

·       Kehidupan Politik

Dalam bidang politik pemerintahan, Sultan Agung berhasil memperluas wilayah Mataram ke berbagai daerah yaitu, Surabaya (1615), Lasem. Pasuruhan (1617), dan Tuban (1620). Di samping berusaha menguasai dan mempersatukan berbagai daerah di Jawa, Sultan Agung juga ingin mengusir VOC dari Kepulauan Indonesia. Kemudian diadakan dua kali serangan tentara Mataram ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629.

Mataram mengalami kemunduran apalagi adanya pengaruh VOC yang semakin kuat. Dalam perkembangannya Kerajaan Mataram akhirnya dibagi dua berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755). Sebelah barat menjadi Kesultanan Yogyakarta dan sebelah kiri menadi Kasunanan Surakarta

·       Kehidupan Ekonomi

Mataram berkembang menjadi kerajaan agraris. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangakan daerah-daerah persawahan yang luas. Seperti yang dilaporkan oleh Dr. de Han, Jan Vos dan Pieter Franssen bahwa Jawa bagian tengah adalah daerah pertanian yang subur dengan hasil utamanya adalah beras. Pada abad ke-17, Jawa benar-benar menjadi lambung padi. Hasil-hasil yang lain adalah kayu,gula, kelapa, kapas, dan hasil palawija

·       Kehidupan Sosial Budaya

Kehidupan sosial di Mataram dikenal beberapa kelompok dalam masyarakat. Ada golongan raja dan keturunannya, para bangsawan dan rakyat sebagai kawula kerajaan. Kehidupan masyarakat bersifat feodal karena raja adalah pemilik tanah beserta seluruh isinya. Sultan dikenal sebagai panatagama, yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, Sultan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rakyat sangat hormat dan patuh, serta hidup mengabdi pada sultan.

Bidang kebudayaan juga maju pesat. Seni bangunan, ukir, lukis dan patung mengalami perkembangan. Kreasi-kreasi para seniman, misalnya terlihat pada pembuatan gapura-gapura, serta ukir-ukiran di istanadan tempat ibadah. Seni tari yang terkenal adalah Tari Bedoyo Ketawang. Dalam prakteknya, sultan Agung memadukan unsur-unsur budaya Islam dengan budata Hindu-Jawa. Sebagai contoh, di Mataram diselenggarakan perayaan sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan membunyikan gamelan Kyai Nagawilaga dan Kyai Guntur Madu. Kemudian juga diadakan upacara grebeg. Grebeg diadakan tiga kali dalam satu tahun yaitu setiap tanggal 10 Dzulliijah, 1 Swyawal, dan tanggal 12 Rabiulawan. Bentuk dan kegiatan upacara grebeg adalah mengarak gunungan dari keratin ke depan masjid agung. Gunungan biasanya dibuat dari berbagai makanan, kue,dan hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung. Upacara grebeg merupakan sedekah sebagai rasa syukur dari raja kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga sebagai pembuktian kesetiaan para bupati dan punggawa kerajaan kepada rajanya.

 

6. Kerajaan Panjang

·       Kehidupan Politik

Kerajaan Pajang ini bisa dikatakan sebagai kerajaan bekas dari Demak. Hal ini karena sejarah berdirinya Kerajaan Pajang tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Demak. Pendiri Kerajaan Pajang adalah Joko Tingkir yang kala itu berhasil menumpas Aryo Penangsang. Aryo Penangsang sendiri adalah raja di Demak yang tidak diinginkan oleh peihak keluarga besar Demak. Dari sini kemudian keluarga meminta bantuan Joko Tingkir untuk menyingkirkan Aryo Penangsang. Setelah berjalannya waktu, Kerajaan Demak runtuh maka Joko Tingkir kemudian menggeser pusat pemerintahan di Demak ke Pajang yang sekaligus menjadi penanda berdirinya Kerajaan Islam Pajang.

·       Kehidupan Ekonomi

Secara ekonomi, perekonomian Kerajaan Pajang sangatlah baik, meskipun tergolong Kerajaan baru. Kesejahteraan rakyatnya cukup terjamin dengan berbagai hasil bumi yang dihasilkan. Ketika Kerajaan Demak masih berkuasa, bahkan Kerajaan Pajang ini sudah berhasil mengekspor beras ke beberapa daerah melalui perniagaan dengan memanfaatkan Bengawan Solo sebagai jalur transportasi. Pada umumnya, masyarakat Pajang mengandalkan hasil kebun dan pertanian untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan Pajang berhasil menjadi lumbung beras pada sekitar abad ke 16 dan ke 17. Hal ini karena irigasi di daerah Pajang sangat bagus dengan adanya Bengawan Solo sehingga irigasi lancar yang kemudian membuat hasil pertanian melimpah.

Kelemahan masyarakat Pajang pada saat itu adalah ketidakmampuan dalam bidang perniagaan. Sehingga meski memiliki hasil agraris yang sangat melimpah, kedigdayaan ekonomi Kerajaan Pajang ini tidak berlangsung lama. Terlebih lagi perniagaan dengan basis laut atau maritim yang sedang ngetrend pada saat itu, semakin membuat Kerajaan Pajang tertinggal dengan kerajaan lain di bidang ekonomi perniagaan. Karena masyarakat pajang kurang ahli dalam masalah kelautan, padahal pada saat itu semua perdagangan hampir dilakukan di lautan.

·       Kehidupan Sosial Budaya

Meski kerajaan Pajang merupakan salah satu Kerajaan Islam di Jawa, namun pengaruh tradisi Hindu masih kentara. Sehingga beberapa kebudayaan pun masih ada yang menggunakan tradisi-tradisi Hindu. Masyarakat di Pajang juga masih banyak yang menjalankan beberapa tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Pada masa kejayaan Kerajaan Pajang, terjadi akulturasi budaya antara Hindu dan Islam yang kuat. Bahkan, kemunculan Kerajaan Pajang ini juga banyak yang menafsirkan kembalinya kekuasaan Islam kejawen dari Islam ortodok.

 

7. Kerajaan Cirebon

·       Kehidupan Politik

Sumber-sumber setempat menganggap pendiri Cirebon adalah Walangsungsang, namun orang yang berhasil meningkatkan statusnya menjadi sebuah kesultanan adalah Syarif Hidayatullah yang oleh Babad Cirebon dikatakan identik dengan Sunan Gunung Jati (Wali Songo). Sumber ini juga mengatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah keponakan dan pengganti Pangeran Cakrabuana. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.

Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi kerajaan Pajajaran yang belum menganut agama Islam. Ia mengembangkan agama ke daerah-daerah lain di Jawa Barat. Setelah Sunan Gunung Jati wafat (menurut Negarakertabhumi dan Purwaka Caruban Nagari tahun 1568), dia digantikan oleh cucunya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Pada masa pemerintahannya, Cirebon berada di bawah pengaruh Mataram. Kendati demikian, hubungan kedua kesultanan itu selalu berada dalam suasana perdamaian. Kesultanan Cirebon tidak pernah mengadakan perlawanan terhadap Mataram.

Pada tahun 1590, raja Mataram , Panembahan Senapati, membantu para pemimpin agama dan raja Cirebon untuk memperkuat tembok yang mengelilingi kota Cirebon. Mataram menganggap raja-raja Cirebon sebagai keturunan orang suci karena Cirebon lebih dahulu menerima Islam. Pada tahun 1636 Panembahan Ratu berkunjung ke Mataram sebagai penghormatan kepada Sultan Agung yang telah menguasai sebagian pulau Jawa. Panembahan Ratu wafat pada tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan Girilaya.

Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampai pada masa Panembahan Girilaya (1650-1662). Sepeninggalnya, sesuai dengan kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh dua putranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom). Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhan dengan gelar Syamsuddin, sementara Panembahan Anom memimpin Kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin. Saudara mereka, Wangsakerta, mendapat tanah seribu cacah (ukuran tanah sesuai dengan jumlah rumah tangga yang merupakan sumber tenaga).

Perpecahan tersebut menyebabkan kedudukan Kesultanan Cirebon menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua kesultanan menjadi proteksi VOC. Bahkan pada waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi perebutan kekuasaan di antara kedua putranya. Keadaan demikian mengakibatkan kedudukan VOC semakin kokoh.

 

·       Kehidupan Ekonomi

Setelah perjanjian 7 Januari 1681 antara kerajaan Cirebon dan VOC, keraton Cirebon semakin jauh dari kehidupan kelautan dan perdagangan, karena VOC memegang hak monopoli atas seperti pakaian dan opium. Demikian pula ekspor komoditas lada, beras, kayu, gula dan sebagainya berada di tangan VOC.

·       Kehidupan Sosial Budaya

Kehidupan Sosial
Cirebon berasal dari kata “caruban” yang artinya campuran. Diperkirakan masyarakat Cirebon merupakan campuran dari kelompok pedagang pribumi dengan keluarga-keluarga Cina yang telah menganut Islam. Menurut Sumber berita tertua tentang Cirebon, satu rombongan keluarga Cina telah mendarat dan menetap di Gresik. Seorang yang paling terkemuka adalah Cu-cu, Keluarga Cu-cu yang sudah menganut agama Islam kemudian mendapat kepercayaan dari pemerintah Demak untuk mendirikan perkampungan di daerah Barat. Atas kesungguhan dan ketekunan mereka bekerja maka berdirilah sebuah perkampungan yang disebut Cirebon.

Kehidupan Budaya
Keraton para keturunan Sunan Gunung Jati tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan pengaruh pemerintah Hindia Belanda. Kesultanan itu bahkan masih dipertahankan sampai sekarang. Meskipun tidak memiliki pemerintahan administratif, mereka tetap meneruskan tradisi Kesultanan Cirebon. Misalnya, melaksanakan Panjang Jimat (peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw) dan memelihara makam leluhurnya Sunan Gunung Jati.

 

8. Kerajaan Maluku

·       Kehidupan Politik

Di Maluku yang terletak di antara Sulawesi dan Irian terdapat dua kerajaan, yakni Ternate dan Tidore. Kedua kerajaan ini terletak di sebelah barat pulau Halmahera di Maluku Utara. Kedua kerajaan itu pusatnya masing-masing di Pulau Ternate dan Tidore, tetapi wilayah kekuasaannya mencakup sejumlah pulau di kepulauan Maluku dan Irian. Kerajaan Ternate sebagai pemimpin Uli Lima yaitu persekutuan lima bersaudara dengan wilayahnya mencakup Pulau- Pulau Ternate, Obi, Bacan, Seram dan Ambon. Kerajaan Tidore sebagai pemimpin Uli Siwa, artinya persekutuan Sembilan (persekutuan sembilan saudara) wilayahnya meliputi Pulau-Pulau Makyan, Jailolo, atau Halmahera, dan pulau-pulau di daerah itu sampai dengan Irian Barat. Antara keduanya saling terjadi persaingan dan persaingan makin tampak setelah datangnya bangsa Barat.

 

Bangsa Barat yang pertama kali datang di Maluku ialah Portugis (1512) yang kemudian bersekutu dengan Kerajaan Ternate. Jejak ini diikuti oleh bangsa Spanyol yang berhasil mendarat di Maluku 1521 dan mengadakan persekutuan dengan Kerajaan Tidore. Dua kekuatan telah berhadapan, namun belum terjadi pecah perang. Untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol, maka pada tahun 1529 diadakan Perjanjian Saragosa yang isinya bangsa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kekuasaannya di Filipina dan bangsa Portugis tetap tinggal Maluku. Untuk memperkuat kedudukannya di Maluku, maka Portugis mendirikan benteng Sao Paulo. Menurut Portugis, benteng ini dibangun untuk melindungi Ternate dari serangan Tidore. Tindakan Portugis di Maluku makin merajalela yakni dengan cara memonopoli dalam perdagangan, terlalu ikut campur tangan dalam urusan dalam negeri Ternate, sehingga menimbulkan pertentangan. Salah seorang Sultan Ternate yang menentang ialah Sultan Hairun (1550-1570). Untuk menyelesaikan pertentangan, diadakan perundingan antara Ternate (Sultan Hairun) dengan Portugis (Gubernur Lopez de Mesquita) dan perdamaian dapat dicapai pada tanggal 27 Februari 1570. Namun perundingan persahabatan itu hanyalah tipuan belaka. Pada pagi harinya (28 Februari) Sultan Hairun mengadakan kunjungan ke benteng Sao Paulo, tetapi ia disambut dengan suatu pembunuhan.

 

Atas kematian Sultan Hairun, rakyat Maluku bangkit menentang bangsa Portugis di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putra dan pengganti Sultan Hairun). Setelah dikepung selama 5 tahun, benteng Sao Paulo berhasil diduduki (1575). Orang-orang Portugis yang menyerah tidak dibunuh tetapi harus meninggalkan Ternate dan pindah ke Ambon. Sultan Baabullah dapat meluaskan daerah kekuasaannya di Maluku. Daerah kekuasaannya terbentang antara Sulawesi dan Irian; ke arah timur sampai Irian, barat sampai pulau Buton, utara sampai Mindanao Selatan (Filipina), dan selatan sampai dengan pulau Bima (Nusa Tenggara), sehingga ia mendapat julukan "Tuan dari tujuh pulau dua pulau".

 

Pada abad ke-17, bangsa Belanda datang di Maluku dan segera terjadi persaingan antara Belanda dan Portugis. Belanda akhirnya berhasil menduduki benteng Portugis di Ambon dan dapat mengusir Portugis dari Maluku (1605). Belanda yang tanpa ada saingan kemudian juga melakukan tindakan yang sewenang-wenang.

 

Tindakan-tindakan  tersebut di atas jelas membuat rakyat hidup tertekan dan menderita, sebagai reaksinya rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata melawan VOC. Pada tahun 1635-1646 rakyat di kepulauan Hitu bangkit melawan VOC dibawah pimpinan Kakiali dan Telukabesi. Pada tahun 1650 rakyat Ambon dipimpin oleh Saidi. Demikian juga di daerah lain, seperti Seram, Haruku dan Saparua; namun semua perlawanan berhasil dipadamkan oleh VOC.

 

Sampai akhir abad ke-17 tidak ada lagi perlawanan besar, akan tetapi pada akhir abad ke-18 muncul lagi perlawanan besar yang mengguncangkan kekuasaan VOC di Maluku. Jika melawan Portugis, Ternate memegang peranan penting, maka untuk melawan VOC, Tidore yang memimpinnya. Pada tahun 1780 rakyat Tidore bangkit melawan VOC di bawah pimpinan Sultan Nuku. Selanjutnya Sultan Nuku juga berhasil menyatukan Ternate dengan Tidore. Setelah Sultan Nuku meninggal (1805), tidak ada lagi perlawaan yang kuat menentang VOC, maka mulailah VOC memperkokoh kekuasaannya kembali di Maluku. Perlawanan yang lebih dahsyat di Maluku baru muncul pada permulaan abad ke-19 di bawah pimpinan Pattimura.

 

·       Kehidupan Ekonomi

Kehidupan rakyat Maluku yang utama adalah pertanian dan perdagangan. Tanah di kepulauan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, banyak memberikan hasil berupa cengkih dan pala. Cengkih dan pala merupakan rempah-rempah yang sangat diperlukan untuk ramuan obat-obatan dan bumbu masak, karena mengandung bahan pemanas. Oleh karena itu, rempah-rempah banyak diperlukan di daerah dingin seperti di Eropa. Dengan hasil rempahrempah maka aktivitas pertanian dan perdagangan rakyat Maluku maju dengan pesat. Bahkan sempat ada pemberitaan tentang hubungan perdagangan antara Maluku dengan Jawa oleh Tome Pires (1512-1515).

·       Kehidupan Sosial Budaya

Kedatangan Portugis di Maluku yang semula untuk berdagang dan mendapatkan rempah-rempah, juga menyebarkan agama Katolik. Pada tahun 1534 missionaris Katolik, Fransiscus Xaverius telah berhasil menyebarkan agama Katolik di Halmahera, Ternate, dan Ambon.

Telah kita ketahui bahwa sebelumnya di Maluku telah berkembang agama Islam. Dengan demikian kehidupan agama telah mewarnai kehidupan sosial masyarakat Maluku. Dalam kehidupan budaya, rakyat Maluku diliputi aktivitas perekonomian, maka tidak banyak menghasilkan budaya. Salah satu karya seni bangun yang terkenal ialah Istana Sultan Ternate dan Masjid kuno di Ternate

 

9. Kerajaan Gowa-Tallo

·       Kehidupan Politik

Kerajaan Gowa-Tallo sebelum menjadi kerajaan Islam sering berperan dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan.  Ketiga kerajaan Bone, Wajo, Soppeng mengadakan persatuan untuk  mempertahankan kemerdekaannya yang disebut perjanjian Tellumpocco. Sejak Kerajaan Gowa resmi sebagai kerajaan bercorak Islam pada 1605, Gowa meluaskan pengaruh politiknya, agar kerajaan-kerajaan lainnya juga memeluk Islam dan tunduk kepada Kerajaan Gowa-Tallo. Kerajaan-kerajaan yang tunduk kepada Kerajaan Gowa-Tallo antara lain Wajo pada 10 Mei 1610, dan Bone pada 23 November 1611.

Dalam sejarah Kerajaan Gowa terdapat sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin dalam mempertahankan kedaulatannya terhadap upaya penjajah politik dan ekonomi kompeni (VOC) Belanda. Awalnya Belanda tidak tertarik kepada berita kemajuan kerajaan ini tetapi saat perampasan kapal Portugisvdi dekat perairan Malaka dimana saat itu terdapat orang Makassar. Orang itulah yang memberitahu pentingnys Pelabuhan Somba Opu sebagai pelabuhan transit. Pada tahun 1634 VOC membokir kerajaan gowa tetapi gagal. Peristiwa peperangan terus berjalan dan berhenti antara 1637-1638. Sempat tercipta perjanjian damai namun tidak kekal karena terjadi perampokan kapal orang Bugis. Perang Sulawesi Selatan terhenti setelah perjanjian Boyanga pada 1667 yang sangat merugikan Kerajaan Gowa-Tallo.

·       Kehidupan Ekonomi

Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Makassar menjadi kerajaan maritim yang besar dan menjelma menjadi pusat perdagangan di kawasan Indonesia bagian timur. Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya: Malaka jatuh ke tangan Portugis, beralihnya para pedagang, mundurnya peran Jawa, dan letaknya yang strategis. Meskipun harus melayani kepentingan beragam pedagang yang berasal dari berbagai bangsa, namun Kerajaan Makassar tetap mampu mengatur aktivitas perdagangan tersebut secara tertib dan adil.

·       Kehidupan Sosial Budaya

Suku bangsa Bugis dikenal sebagai bangsa pelaut yang ulung. Salah satu hasil budayanya yang mengagumkan adalah perahu pinisi. Biasanya  menggunakan perahu itu, mereka mengarungi lautan lepas dan membangun jaringan pelayaran dan perdagangan antarpulau bahkan antarkawasan. Para penguasa Gowa sudah sejak lama menerapkan prinsip mare liberum atau laut bebas. Meskipun begitu, mereka sangat terikat dengan dengan norma adat yang ketat. Norma yang dianut masyarakat Makassar biasa disebut pangadakkang  bersumber dari ajaran agama Islam. Bahkan hingga kini, masyarakat Makassar terkenal dengan penghormatannya yang kuat pada norma-norma adat. Struktur sosial masyarakat Makassar meliputi golongan bangsawan yang disebut  karaeng, rakyat kebanyakan yang disebut  to maradeka dan hamba sahaya yang disebut ata

 

10. Kerajaan Buton

·       Kehidupan Politik

Masa pemerintahan Kerajaan Buton mengalami kemajuan terutama bidang Politik Pemerintahan dengan bertambah luasnya wilayah kerajaan serta mulai menjalin hubungan Politik dengan Kerajaan Majapahit, Luwu, Konawe, dan Muna. Demikian juga bidang ekonomi mulai diberlakukan alat tukar dengan menggunakan uang yang disebut Kampua (terbuat dari kapas yang dipintal menjadi benang kemudian ditenun secara tradisional menjadi kain). Memasuki masa Pemerintahan Kesultanan juga terjadi perkembangan diberbagai aspek kehidupan antara lain bidang politik dan pemerintahan dengan ditetapkannya Undang-Undang Dasar Kesultanan Buton yaitu “Murtabat Tujuh” yang di dalamnya mengatur fungsi, tugas dan kedudukan perangkat kesultanan dalam melaksanakan pemerintahan serta ditetapkannya Sistem Desentralisasi (otonomi daerah) dengan membentuk 72 Kadie (Wilayah Kecil).

·       Kehidupan Ekonomi

Masyarakat Buton memiliki etnik yang berbudaya maritim dan memiliki kebiasaan merantau serta berdagang, sehingga tidak menutup kemungkinan di antara mereka telah ada yang menjalin hubungan erat dan rapat dengan para saudagar-saudagar muslim yang mengembangkan agama Islam melalui jalur perdagangan. Kedua, bahwa ditinjau dari sudut pandang geografis, letak Buton yang berada sebagai jalur lalu-lintas perdagangan yang menghubungkan Jawa, Makassar dan Maluku, menjadikan wilayah ini berpotensi untuk disinggahi oleh para pedagang

·       Kehidupan Sosial Budaya

Rakyat di negeri-negeri Sulawesi Tenggara jauh sebelum masuk Islam telah menganut aliran dan kepercayaan terhadap beberapa kekuatan gaib seperti animisme dan dinanisme yang mengatur isi alam semesta, aliran kepercayaan tersebut kemudian dipengaruhi oleh agama Hindu, seiring dengan penyebaran HinduBudha di kepulauan Nusantara abad ke-7 M. Pengaruh tersebut masih terlihat hingga saat ini, seperti pembacaan mantra-mantra pada saat pembukaan lahan untuk kebun pada saat panen dan pada saat-saat tertentu apabila ada marabahaya dalam masyarakat, mantramantra tersebut diikuti dengan sesajen yang kemasan utamanya, yaitu janur atau daun muda kelapa.

 Kepercayaan-kepercayaan masyarakat Buton pra-Islam yang ada kaitannya dengan islamisasi yang berlangsung mulus, keyakinankeyakinan masyarakat terhadap beberapa benda dan tempat yang disakralkan. Ketika pertama kali syekh Abdul Wahid singgah di Buton dapat dipastikan bahwa ia harus berhadapan langsung dengan masyarakat yang tidak hampa kepercayaan dan tradisi. Paham dan kepercayaan pra-Islam adalah Brahma atau Hindu-Budha. Hal ini dapat dibuktikan dalam kebiasaan yang sudah menjadi tradisi secara turun-temurun sampai sekarang di dalam masyarakat.

Landasan filosofis dalam berlayar dan berdagang bagi masyarakat Buton adalah manifestasi pengamalan nilai-nilai keagamaan yang terpadu dengan falsafah hidup yang mereka anut. Falsafah hidup masyarakat Buton yang mengajurkan marasai indau marasaiyaka indau marasai beu marasaiaka (bekerja keras untuk bersenang-senang agar kamu tidak tanggung sengsara kemudian). Tradisi maritim orang Buton terpadu dengan nilai keislaman tampak pada sebuah kabanti (syair), yang dibuat oleh sultan Buton ke-29, sultan Qaimuddin yang berjudul Bula Malino (bulan jernih), seperti yang dikutip oleh Abdul Rahman Hamid Syair ini berbahasa 16 yang melukiskan tentang pelayaran perahu dengan muatan ajaran Islam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

B. Kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Kerajaan Islam di Nusantara